RUNTUHNYA MARWAH GURU
RUNTUHNYA MARUAH GURU
Lagi dan lagi! Kita dikejutkan oleh perilaku murid kepada gurunya yang bikin geleng-geleng kepala.
Kemarin publik dikejutkan oleh video viral dimana para murid kelas XI di SMAN 1 Purwakarta dengan sengaja mengacungkan jari tengah untuk mengolok-olok gurunya. Bahkan tindakan itu mereka rekam untuk dijadikan dokumentasi lucu-lucuan.
Bukan. Tindakan vulgar tersebut bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ini sesungguhnya adalah sebuah simbol tentang betapa rapuhnya benteng kehormatan guru saat ini. Kejadian tersebut adalah bukti telah runtuhnya maruah dan wibawa pendidik di titik yang paling rendah.
Pertanyaan besarnya adalah :
Kenapa bisa siswa di sekolah memandang gurunya tanpa rasa hormat?
Jawabannya, terdapat satu akar masalah yang paling krusial, yaitu Hilangnya otonomi dan kedaulatan guru.
1️⃣ Guru yang terpasung
Saat ini, guru berada dalam posisi yang sangat rentan. Di satu sisi, mereka dibebankan tanggung jawab besar untuk membentuk karakter siswa. Di sisi lain, tangan mereka seolah terikat oleh ketakutan akan kriminalisasi.
Ketika seorang guru tidak lagi memiliki kedaulatan untuk memberikan konsekuensi tegas tanpa rasa takut akan dilaporkan ke polisi atau dihujat di media sosial, maka pada detik itulah wibawanya sirna.
Celakanya, para Siswa mampu merasakan ketidakberdayaan guru ini, lalu pelan-pelan mulai menganggap remeh otoritas si guru di depan kelas atau di sekolah.
2️⃣ Pendidikan yang Kehilangan Ruh
Kita terjebak dalam sistem yang terlalu administratif. Guru disibukkan dengan urusan kurikulum, kegiatan seremonial, hingga tuntutan administrasi digital, sehingga waktu untuk membangun ikatan emosional dengan siswa terkikis habis.
Padahal, Tanpa adanya ikatan emosional, mustahil akan lahir sebuah penghormatan. Guru pada akhirnya hanya dipandang sebagai mesin instruksi, penyampai materi pelajaran, bukan sebagai "orang tua kedua" atau kompas moral.
3️⃣ Guru Tergerus Arus Informasi
Selain itu, posisi tawar guru secara sosiologis semakin tergerus oleh era informasi. Ketika ilmu pengetahuan bisa diakses lewat sekali klik, guru kehilangan monopoli atas kebenaran ilmu. Pada akhirnya guru “tidak lagi dibutuhkan” soal pencarian ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, sekolah hanya dianggap sebagai tempat mencari angka dan ijazah. Sehingga etika hanya akan dipandang sebagai aksesoris yang bisa ditanggalkan kapan saja.
Mengembalikan martabat guru tidak bisa hanya dengan imbauan atau ceramah moral bagi siswa. Tidak bisa hanya dengan amanat pembina upacara setiap senin.
Hal ini memerlukan perubahan sistemik. Perlu ada payung hukum yang nyata bagi guru dalam melakukan tindakan pendisiplinan yang edukatif. Yang benar-benar jelas dan tegas. Bukan sekedar program di atas kertas, tapi praktiknya nol.
Selain itu Perlu ada kontrak sosial baru antara orang tua dan sekolah bahwa pendidikan karakter melibatkan rasa sakit dari disiplin, dan itu adalah bagian dari proses pertumbuhan.
Jika kita terus membiarkan guru berjalan di atas telur yang rapuh, takut pada bayang-bayang hukum, dan tekanan wali murid, maka jangan heran jika ruang kelas kita hanya akan melahirkan robot-robot pintar yang miskin adab. Sebab, pada akhirnya, pendidikan tanpa wibawa guru adalah sebuah proses yang kehilangan jiwanya.
#pendidikan #guru #fyp
Komentar
Posting Komentar