AKHIRNYA SAYA PAHAM, KENAPA BANYAK GURU SENIOR TERLIHAT “DIAM”

AKHIRNYA SAYA PAHAM

Dulu, saya termasuk yang paling cepat bereaksi.
Kalau lihat guru senior duduk tenang di ruang guru saat ada program baru, jujur saja… dalam hati saya sempat menilai: “kurang semangat berubah.”

Waktu itu saya penuh energi.
Ikut pelatihan ke sana-sini, coba aplikasi baru, sibuk dengan inovasi, lomba, administrasi, pokoknya ingin jadi bagian dari perubahan.

Saya pikir, yang tidak ikut arus itu berarti menghambat.

Tapi sekarang… setelah waktu membawa saya ke fase itu juga, cara pandang saya berubah.

Ternyata, itu bukan malas.
Itu lelah… tapi bukan lelah biasa.
Lebih tepatnya: lelah karena sistem yang terus berulang.

Guru-guru yang sudah lama mengabdi, mereka sudah berkali-kali melihat hal yang sama:
program datang, digaungkan besar-besaran, lalu perlahan hilang… diganti program baru lagi.

Nama boleh berbeda, istilah makin keren, tapi sering kali esensinya tidak jauh berubah.
Yang berubah justru: administrasi makin banyak.

Akhirnya saya paham, kenapa mereka memilih “diam”.

1️⃣ Mereka sudah punya pengalaman panjang
Mereka tahu mana program yang benar-benar berdampak, dan mana yang hanya sekadar tren sesaat. Jadi mereka tidak lagi mudah terbawa euforia.

2️⃣ Fokus mereka berubah
Bukan lagi soal terlihat aktif atau punya banyak sertifikat, tapi lebih ke satu hal:
“Apakah ini benar membantu murid saya belajar?”

3️⃣ Energi tidak lagi sebanyak dulu
Di fase ini, mereka lebih selektif.
Bukan menolak perubahan, tapi memilih mana yang layak diperjuangkan, dan mana yang hanya menguras tenaga.

Saya juga baru sadar, menjadi guru itu bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang kita kuasai, atau seberapa sering ikut pelatihan.

Yang paling penting tetap sama:
apa yang terjadi di dalam kelas.

Interaksi dengan murid.
Cara kita menjelaskan.
Kesabaran kita menghadapi mereka.

Banyak guru senior memilih terlihat “tenang”, bukan karena tidak peduli.
Justru karena mereka ingin tetap waras, tetap kuat, dan tetap hadir sepenuhnya untuk murid-muridnya.

Untuk teman-teman guru muda:
silakan tetap semangat, terus belajar, terus bergerak.

Tapi satu hal…
jangan buru-buru menilai diamnya guru senior sebagai ketidakpedulian.

Bisa jadi, mereka hanya sedang memilih cara yang lebih sederhana, lebih fokus, dan lebih nyata dampaknya.

Karena pada akhirnya,
yang paling penting bukan seberapa sibuk kita terlihat, tapi seberapa dalam murid kita benar-benar paham.

Terinspirasi dari Bapak Guru Supri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan di Raport Tidak ada Perengkingan

SMA Negeri 1 Kedondong Torehkan Prestasi Cemerlang: 18 Siswa Lolos sebagai Finalis OSN Tingkat Kabupaten/Kota Se-Provinsi Lampung 2025

Apa Kabar Negeriku