Menggapai Cahaya Di Tengah Gelap


Aku lahir dari keluarga sederhana yang penuh perjuangan. Masa kecilku tidak seperti anak-anak lain yang mungkin lebih beruntung. Kami sering mengalami masa sulit, dan kehidupan mengajarkanku arti kesabaran serta keikhlasan.

Saat bersekolah di tingkat SMK, aku tidak punya jatah bulanan seperti teman-teman lainnya. Tapi, alhamdulillah, Allah selalu mengelilingiku dengan orang-orang baik. Aku tidak menyerah. Setiap pagi, aku membuat bakwan untuk kujual dan kutitipkan di koperasi sekolah. Hasil dari bakwan itu menjadi penyokong kecil untuk memenuhi kebutuhan harian.

Ketika lulus SMK, keinginanku untuk melanjutkan pendidikan harus kutunda. Kakakku, yang duduk di semester lima kala itu, butuh dukungan penuh untuk menyelesaikan kuliahnya. Emak dengan penuh kasih berkata, "Kalau kalian kuliah bareng, emak khawatir semuanya berhenti di tengah jalan." Kata-kata itu menusuk, tapi aku tahu emak benar. Maka, dengan berat hati, aku memutuskan menunda kuliah.

Aku mencoba peruntungan di tanah Jawa, mengadu nasib di tengah kerasnya kehidupan. Kota besar dengan hiruk pikuknya menyambutku tanpa belas kasihan. Namun, aku bertahan. Aku bekerja, menabung, dan menguatkan hati. Ganasnya ibu kota kuterima sebagai guru kehidupan yang menggembleng mental dan kepribadianku.

Empat tahun berlalu, kakakku akhirnya menyelesaikan pendidikannya, wisuda, dan menikah. Saat itu, aku merasa waktuku telah tiba. Aku berhenti bekerja dan pulang ke Lampung untuk melanjutkan impianku yang sempat tertunda. Aku mendaftar di Universitas Islam Negeri di Lampung, melangkah dengan harapan dan semangat yang baru.

Masa-masa sulit perlahan berlalu. Keinginanku yang dulu terpendam, satu per satu mulai terwujud. Alhamdulillah, kehidupan ekonomi kini mulai membaik. Aku sadar, aku ingin menikmati kehidupan ini dengan sepenuh hati. Dulu aku banyak menahan diri, dan kini aku mencoba memuaskan keinginan yang sempat terkubur.

Memang, mungkin ada yang menganggap ini pemborosan. Tapi bagiku, ini adalah hadiah untuk diriku sendiri, atas perjuangan yang telah kulalui. Aku bertekad untuk tetap menjadi orang baik, membantu keluarga, teman, dan siapa pun di sekitarku yang membutuhkan.

Aku berharap, ini bukan kesalahan. Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan bersama orang-orang terkasih.

Kepada istri dan anak-anakku, maafkan jika aku terkesan berlebihan atau egois. Aku hanya ingin kalian tahu, aku mencintai kalian lebih dari apa pun. Semua yang kulakukan, termasuk menikmati hasil jerih payah ini, adalah bagian dari kebahagiaan yang ingin kubagi bersama kalian.

Semoga perjalanan ini membawa berkah, dan aku bisa terus melangkah dengan hati yang penuh syukur.

Cerita ini sebagai pengingat perjuangan dan semoga menginspirasi bagi orang lain. 

Aamiin

Komentar

  1. TIDAK ADA YANG TAK MUNGKIN SELAMA KITA IKHLAS MENJALANI DAN MENIKMATI PROSESNYA SERTA DENGAN KESUNGGUHAN UNTUK TERUS BERDO'A DAN IKHTIAR

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan di Raport Tidak ada Perengkingan

SMA Negeri 1 Kedondong Torehkan Prestasi Cemerlang: 18 Siswa Lolos sebagai Finalis OSN Tingkat Kabupaten/Kota Se-Provinsi Lampung 2025

Peringatan Hari Pendidikan Nasional Dimeriahkan dengan Memakai Baju Adat Di SMK PGRI 1 Kedondong